tafrihan.diengplateau.com

Tafrihan

Rt.02/ Rw.02 Kp. Purwosari Kel. Kejajar Kec. Kejajar Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah 56354
Tafrihan

Persiapan Acara Sarasehan Pengelolaan Peninggalan Sejarah Dieng

August 31, 2013, by tafrihan, category lsm bhinneka karya dieng, tafrihan

Persiapan Konsep

Sarasehan Pengelolaan Peninggalan Sejarah Dieng Thema “Melindungi dan Melestarikan untuk Kesejahteraan“

Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional

Dieng , 31 Agustus 2013

Latar Belakang
Peninggalan sejarah dan keagungan budaya berupa Candi Dieng merupakan kumpulan candi yang terletak di pegunungan tafrihan dan persiapan sarasehan
Dieng, Wonosobo, Jawa tengah. Kawasan Candi Dieng menempati dataran pada ketinggian 2000 m di atas permukaan laut,
memanjang arah utara-selatan sekitar 1900 m dengan lebar sepanjang 800 m.
Kumpulan candi Hindu beraliran Syiwa yang diperkirakan dibangun antara akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9 ini diduga
merupakan candi tertua di Jawa. Sampai saat ini belum ditemukan informasi tertulis tentang sejarah Candi Dieng, namun para ahli
memperkirakan bahwa kumpulan candi ini dibangun atas perintah raja-raja dari Wangsa Sanjaya. Di kawasan Dieng ini ditemukan
sebuah prasasti berangka tahun 808 M, yang merupakan prasasti tertua bertuliskan huruf Jawa kuno, yang masih masih ada hingga
saat ini. Sebuah Arca Syiwa yang ditemukan di kawasan ini sekarang tersimpan di Museum Nasional di Jakarta. Pembangunan
Candi Dieng diperkirakan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama yang berlangsung antara akhir abad ke-7 sampai dengan
perempat pertama abad ke-8, meliputi pembangunan Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi dan Candi Gatutkaca. Tahap kedua
merupakan kelanjutan dari tahap pertama, yang berlangsung samapi sekitar tahun 780 M.

Candi Dieng pertama kali diketemukan kembali pada tahun 1814. Ketika itu seorang tentara Inggris yang sedang berwisata ke
daerah Dieng melihat sekumpulan candi yang terendam dalam genangan air telaga. Pada tahun 1956, J.Van Kinsbergen memimpin
upaya pengeringan telaga tempat kumpulan candi tersebut berada. Upaya pembersihan dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda
pada tahun 1864, dilanjutkan dengan pencatatan dan pengambilan gambar oleh J.Van Kinsbergen.
Peninggalan sejarah yang tak ternilai tersebut bukan hanya berupa candi yang berada di dataran tinggi Dieng akan tetapi ada juga
beberapa bangunan atau bagian dari bangunan candi yang ditemukan di tempat lain seperti di Desa Pekasiran, Parikesit dan diatas
desa Igirmranak walaupun sampai saat ini masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak berharga oleh masyarakat sekitar.
Selain candi di kawasan Dieng ditemukan juga jalan kuno Dieng atau Ondho Budho, dalam dokumentasi Demmeni tertulis
tahun 1911 yang terletak desa Sikunang dan desa Mlandi, Bangunan bersejarah tersebut sampai saat ini tidak ada yang
memperdulikan dan dibiarkan tertimbun longsoran tanah karena adanya budidaya tanaman holtikultura yang tidak menghendaki
adanya tanaman keras disekitarnya , upaya masyarakat untuk menggali dan melestarikan peninggalan tersebut sampai saat ini
terhenti karena belum adanya dukungan dari berbagai pihak bahkan sering terjadi konflik kepentingan dengan pemilik lahan
disekitarnya.

Upaya untuk melestarikan peninggalan sejarah tersebut tentunya sangat tidak mungkin apabila dibebankan seluruhnya kepada
pemerintah atau kepada masyarakat saja akan tetapi dibutuhkan sinergitas antara keduanya dan pihak lain yang memiliki
kepentingan, Bukan tanpa alasan upaya perlindungan dan pelestarian ini dilakukan karena nantinya akan dapat mendatangkan
keuntungan ekonomi bagi warga di sekitarnya.
Daya tarik peninggalan sejarah Dieng yang sudah mendunia ini diharapkan akan mampu menjadi daya dorong kegiatan
ekonomi yang tidak berbasis lahan karena terbukti sampai saat ini kegiatan pertanian di kawasan Dieng telah menimbulkan dampak
degradasi lingkungan yang sangat mengancam bagi kehidupan generasi mendatang ( data di Indonesia Power mencatat tingkat erosi
tanah dari kawasan Dieng mencapai 200 ton / hektar/ tahun ).
Jawaban yang paling masuk akan adalah pengalihan kegiatan ekonomi masyarakat dari bertani menuju kegiatan pariwisata
sebagai pendamping usaha tani,karena pariwisata merupakan kegiatan ekonomi yang modalnya tidak akan pernah habis untuk dijual
kepada wisatawan.

Akan tetapi disisi lain upaya perlindungan dan pelestarian peninggalan sejarah tersebut sering berbenturan dengan
kepentingan lain seperti kepentingan pertanian dan pemukiman, oleh karenanya dibutuhkan konsep segar untuk sinergitas bagi
keduanya dengan harapan upaya yang dilakukan tersebut akan dapat mendatangkan kesejahteraan tanpa merugikan yang lain.
Berdasarkan pada latar belakang tersebut diatas, Pusat Penelitian dan pengembangan Arkeologi Nasional bekerjasama
dengan peneliti /pemerhati Arkeologi dan LSM Bhinneka Karya Wonosobo bermaksud menyelenggarakan Sarasehan Pengelolaan
Peninggalan Sejarah Dieng dengan Thema “Melindungi dan Melestarikan untuk Kesejahteraan“/ Arti Penting Pengelolaan Warisan Budaya Dieng

Tujuan
Secara umum, Sarasehan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat sekitar guna melindungi dan melestarikan
peninggalan sejarah Dieng untuk kesejahteraan warga sekitar.
Secara khusus Sarasehan ini bertujuan untuk beberapa hal berikut ini:
Menggali informasi lebih dalam tentang peninggalan sejarah Dieng
1. Menemukan konsep perlindungan dan pelestarian peninggalan sejarah Dieng.
2. Mencari Solusi terbaik untuk pelibatan masyarakat dalam upaya perlindungan dan pelestarian
3. Rekomendasi
Pemateri Sarasehan
1. Dr.Bambang Sulistyanto ( Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional)
2. Jajang Agus Sonjaya M.Hum ( Peneliti /Dosen FIB UGM )
3. Agus Tri Hascaryo ,SS,ST,MS.c (Peneliti/ Dosen FIB UGM ) (moderator )
4. Tafrihan ( Ketua LSM Bhinneka Karya )
Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Sarasehan ini direncanakan akan dilaksanakan selama 1 hari pada tanggal 31 Agustus 2013 di Pendopo Suharto Withlam Dieng,
dimulai pada pukul 9.00 WIB dan diharapkan berakhir pada pukul 15.00 WIB.
Peserta ( terlampir)
Pelaksana
Kegiatan ini dilaksanakan oleh LSM Bhinneka Karya Kerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional
Pembiayaan
Anggaran untuk kegiatan ini didukung sepenuhnya oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional

tafrihan.diengpalteau.com

So, what do you think ?